Kinerja Jokowi Urus Lingkungan Hidup

OLEH:
MUCHTAR EFFENDI HARAHAP (Ketua Tim Studi NSEAS)


BAKINUPDATE.COM,- Saat kampanye Pilpres 2014 lalu, Jokowi paling suka berjanji lisan kepada rakyat Indonesia. Lebih seratus janji disampaikan, akan tetapi hingga 3,5 tahun menjadi Presiden, dapat dinilai hanya beberapa janji  dipenuhi. Boleh saja jika ada rakyat Indonesia melabeling Jokowi suka ingkar janji.

Di bidang lingkungan hidup, Jokowi lisan berjanji:
1. Membenahi masalah Jakarta seperti kemacetan, banjir, dan lain-lain  dengan cara lain jika terpilih sebagai Presiden. Dalam realitas obyektif, setelah jadi Presiden, janji itu hanya untuk kampanye semata. Tidak ada aksi, kemacetan dan banjir terus berlangsung.
2. Menangani kabut asap di Riau. Ada kemajuan, kabut asap di Riau berkurang, walau tidak terbebas sama sekali.

Sumber Kementrian Lingkungan Hidup  mencatat bahkan level nasional, untuk pertama kali penanganan kebakaran hutan dan lahan tidak ada asap melintasi negara. Luas areal terbakar menurun drastis.

Pada tahun 2015 seluas 2,61 juta ha; 2016 turun drastis 0,43 juta ha; dan, 2017 hanya 0,17 juta ha. Dapat dinilai kinerja Jokowi dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan sangat bagus. Diharapkan, saat Asian Games 2018 di Palembang, tidak terjadi kebakaran di Sumatera bagian Utara dan Selatan ini.

Janji tertulis kampanye Pilpres Jokowi tertuang di dalam dokumen NAWA CITA.

Jokowi berjanji:

1. Akan melakukan langkah pemulihan kualitas kesuburan lahan yang air irigasinya tercemar oleh limbah industri dan rumah tangga. Masih belum bisa dibuktikan dalam realitas obyektif.
2. Akan menghentikan  konversi lahan produktif untuk usaha lain,  seperti industri, perumahan, dan pertambangan. Belum terealisasikan, masih terus berlangsung konversi lahan produktif. Bahkan, proyek infrastruktur memperbesar konversi ini.
3. Membaiknya kualitas hidup dengan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) mencapai rata-rata 70-80 %. Belum terbukti dalam realitas obyektif.
4. Role model sikap dan prilaku hidup merawat alam lingkungan sekitar melalui intensif dan disintensif untuk mendorong prilaku hidup green dengan mendorong tercapainya 85 % rumah tangga mengetahui prilaku peduli lingkungan hidup dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Masih fiksi.

Lebih jauh Jokowi membuat rencana kegiatan/program bidang  lingkungan hidup tertuang di dalam dokumen RPJMN 2015-2019. Jokowi akan melaksanakan antara lain:

1. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup dengan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) 66,5-68,5 pada 2019 dengan baseline 2014 63,0-64,0.
KemenKLH menghitung  IKLH Nasional tahun 2016 sebesar 65, 73. Angka ini  menunjukkan penurunan sebesar 2,50 poin dibandingkan dengan tahun 2015, yaitu dari 68,23 menjadi 65,73. IKLH 2016 memang belum mencapai target minimal tahun 2019,  akan tetapi sangat mendekati jika tidak terjadi penurunan. Kita tunggu data tahun berikutnya.

2. Memperkuat kerangka pengendalian dan kapasitas pengelolaan lingkungan hidup. Belum berjalan efektif.

Pada level Kementerian, rencana kegiatan bidang lingkungan hidup terdapat di Renstra 2015-2019 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.  Sesuai Renstra, Pemerintah akan melaksanakan antara lain:

1. Menjaga kualitas lingkungan hidup untuk meningkatkan daya dukung lingkungan, ketahanan air dan kesehatan masyarakat. Indikator kinerja:  IKLH pada kisaran 66,5-68,6.
KemenLHK mencatat, pada tahun  2015 IKLH 68,23. Pada tahun 2016 menurun menjadi 65,73. Diperkirakan, akan mencapai target 2019, kecuali 2017 dan 2018 terus menurun.

2. Melestarikan keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati serta keberadaan SDA sebagai sistem penyanggah kehidupan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan.
Indikator kinerja:  derajat keberfungsian meningkat setiap tahun,  penurunan jumlah hotspot kebakaran hutan dan lahan, peningkatan populasi spesies terancam punah, peningkatan ekosistem esensial dikelola oleh para pihak, penurunan konsumsi bahan bakar ozon. Masih menunggui data resmi dari Pemerintah realisasinya.

Kinerja Jokowi urus lingkungan hidup sesungguhnya bukan tanpa kritik aktivis atau praktisi lingkungan. Kita menemukan sejumlah penilaian negatif tentang Jokowi urus lingkungan, antara lain:

1. Gurgur Manurung, Praktisi Lingkungan (Harian Kompas, 6 Juni 2015): Ada 4 indikator menunjukkan Jokowi tidak berpihak pada lingkungan. Salah satunya, ada  kebijakan pendelegasian perizinan dan non perizinan  lingkungan ke BKPM. Hal menunjukkan, Jokowi lebih mengutamakan kepentingan investasi ketimbang lingkungan.

2. Aktivis Walhi,  Pius Ginting ( nasional indonesia.com): Setahun pemerintahan Jokowi-Jk, gagal benahi terkait lingkungan hidup. Contohnya, kondisi masyarakat tinggal di areal Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Ada  ribuan masyarakat harus terkena dampaknya terhadap pembangunan PLTU tersebut.  Belum ada tindakan yang baik.

3. LSM peduli lingkungan Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) ( http://aa.com.tr ):  Salah satu kebijakan tidak memerhatikan  lingkungan ialah  PP No.13 Tahun 2017 tentang Perubahan atas PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. PP ini  secara umum bersifat toleran terhadap pembangunan proyek mega infrastruktur, terutama Proyek Strategis Nasional, di mana pemerintah boleh. melanggar rencana tata ruang  sudah ada lebih dulu tanpa berdasarkan pada perhitungan jelas.

4. Aktivis Walhi, Khalisah Khalid (swamedium.com):  Pemerintahan Jokowi-JK selama tiga tahun berkuasa menjadikan jargon pertumbuhan ekonomi dan  pembangunan  infrastruktur  berisiko tinggi dan membahayakan  lingkungan hidup dan keselamatan  masyarakat.

Masih ada waktu 1,5 tahun lagi bagi Jokowi membangun kinerja urus lingkungan hidup sesuai dengan kehendak para praktisi dan aktivis lingkungan ini. Kritik mereka bagi Tim Studi NSEAS dapat membangun citra negatif  Jokowi, gagal urus lingkungan./Red




Red/amf






Tidak ada komentar

MEDIA BAKIN. Gambar tema oleh 5ugarless. Diberdayakan oleh Blogger.