Mencari Panutan

Lutfi Sarif Hidayat
Direktur Civilization Analysis Forum (CAF)
http://twitter.com/lutfisarif



BAKINUPDATE.COM,- Banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan oleh negeri tercinta ini. Banyak sekali kewajiban bagi seluruh elemen masyarakat hingga level negara yang semestinya dituntaskan. Ditengah-tengah itu silih berganti masalah menerpa dan terus berdatangan tiada henti. 

Belum selesai satu masalah, muncul kembali problem baru. Keadaan negeri bukan membaik, namun justru semakin terpuruk. Tidak sekedar satu sektor, akan tetapi hampir setiap bidang ditemukan persoalan yang pelik. Bukan hanya karena sebab alami sehingga muncul masalah. Tapi seperti ada yang menikmati setiap keterpurukan yang terjadi. 

Ini bukanlah sikap pesimis maupun keputus-asaan. Kalimat-kalimat ini adalah bentuk kesadaran, kecintaan dan kepeduliaan terhadap tanah air tercinta ini. Dan kemudian menjadi energi optimis untuk situasi terbaik bagi semuanya. 

Meski demikian ada satu persoalan mendasar yang sangat penting dijadikan bahan diskursus oleh semua kalangan. Satu pertanyaan fundamental dan menjadi kebutuhan mendesak jika mengharapkan kemajuan pada negeri ini. Kepada siapa masyarakat seharusnya mencari panutan?

Bagi saya pertanyaan tersebut seakan pukulan keras bagi para elit di negeri ini khususnya pada waktu sekarang. Betapa tidak? Di tengah-tengah negeri yang sedang mengalami terpaan banyak persoalan. Masyarakat justru dihadapkan pada tingkah laku para elit, baik dari oknum pemangku kebijakan, politikus hingga para pengikut-pengikutnya yang jauh dari semangat mencerdaskan rakyat. Dan bahkan tidak memberikan sikap teladan kenegaraan bagi rakyat.

Masyarakat seakan sudah mempunyai penilaian tersendiri terhadap masing-masing pihak. Walaupun sebenarnya seringkali disebabkan oleh oknum-oknum tertentu. Hanya saja pada satu sisi fakta sekarang ini memperlihatkan begitu sulitnya mencari 'role model' terbaik dalam menjalankan sebuah entitas politik berupa negara. Pada sisi yang lain, kebutuhan dari sikap negarawan dari para elit sedang sangat dibutuhkan. Terutama dalam menghadapi kompleksitas tantangan hari ini dan kedepannya.

Siapa panutan itu? Seandainya pemimpin-pemimpin negeri sering sibuk dengan hal-hal yang tidak menunjukkan dirinya sebagai seorang pemimpin. Sikap wibawa dan kecerdasan sebagai pemimpin belum nampak jelas. 

Bahkan tidak jarang hanya mempertontokan 'blunder politik' dan kecerobahan sehingga kesan tidak serius sering diberikan oleh sebagian pihak. Padahal menjadi pemimpin semestinya memberikan contoh bagaimana semestinya harus menyikapi persoalan. 

Jikapun belum benar-benar memberikan contoh, paling tidak seharusnya berikan energi positif dan kalimat-kalimat maupun kebijakan-kebijakan secara kharismatik serta menyatukan, bukan sebaliknya. Justru kebijakan kontroversial seringkali muncul, meskipun mungkin campur tangan para pihak-pihak luar.

Siapa panutan itu? Jika masyarakat seringkali hanya diperlihatkan janji-janji manis saat berkampanye, dan 'zero action' di lapangan. Sehingga benar apa yang dikatakan oleh Niccolo Machiavelli, "the promise given was a necessity of the past. The word broken is a necessity of the present." Kalimat ini mungkin sangat pas dengan tindakan para oknum pemimpin yang hanya bisa memberikan janji agar mendapatkan dukungan.

Siapa panutan itu? Seandainya masih saja ada kebijakan-kebijakan yang membuat kegaduhan di tengah-tengah masyarakat. Pemangku kebijakan yang seharusnya memberikan kenyamanan dan memersatukan dengan kebijakan-kebijakannya. Justru sebaliknya, yang terjadi adalah kebijakan dikeluarkan justru membuka pintu atau berpotensi menimbulkan pecah-belah di tengah masyarakat.

Siapa panutan itu? Kalau para oknum elit politikus seperti sedang bermain drama. Mereka begitu kerasnya menentang kebijakan lawan politiknya disaat mereka menjadi oposisi. Namun dikala mereka menjadi bagian dari kekuasaan mereka hanya terdiam dan mengamini kebijakan yang dulunya mereka tentang habis-habisan. Sehingga yang terjadi sejatinya hanyalah permainan kepentingan. 

Kepentingan berjalan dengan membawa persamaan dan perbedaan di antara para elit. Mereka bersatu karena persamaan kepentingan. Mereka menjadi musuh karena berbeda kepentingan. Inilah yang terjadi di negeri tercinta ini. Politik hanya diisi oleh praktek politik dan kepentingan pragmatis.

Lalu siapa panutan itu?

Ahad, 20 Mei 2018



Red/amf

Tidak ada komentar

MEDIA BAKIN. Gambar tema oleh 5ugarless. Diberdayakan oleh Blogger.