OTT Yang Gagal Total. Penyelidik KPK Babak Belur Dihajar Rombongan Gubernur Papua


BAKINUPDATE.COM,- JAKARTA – Skenario Operasi Tangkap Tangan atau OTT Gubernur Papua Lukas Enembe di Hotel Brobudur, gagal total.
Penyidik KPK yang melakukan pengintaian sebelum melakukan OTT Gubernur Papua justru menjadi korban. Ia menjadi sasaran amukan rombongan Gubernur Papua.
Kejadian bermula saat tim badan anggaran eksekutif, legislatif dan Kementerian Dalam Negeri melakukan pertemuan di Hotel Brobudur. Rapat bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap APBD Papua.
KPK mendapat informasi bahwa pertemuan itu mencurigakan. Karena itu, KPK mengerahkan tiga penyidik untuk melakukan pengintaian.
Tiga penyidik KPK itu membuntuti Gubernur Papua Lukas Enembe yang sedang rapat bersama Ketua DPRD Papua, anggota DPRD Papua, Sekretaris Daerah (Sekda) dan sejumlah pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Hotel Borobudur.
Seorang penyidik KPK bernama Muhammad Gilang W mengambil foto Lukas Enembe dan melaporkan kepada pimpinannya.
Aksi Gilang rupanya diketahui oleh Sekda Papua Hery Dosinaen. Sekda lantas menanyakan mengapa Gilang mengambil foto-foto gubernur.
Tak mendapat jawaban memuaskan, rombongan gubernur akhirnya memukul penyidik KPK itu hingga babak belur. Wajahnya sobek, hidung patah. Korban terpaksa dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan.
Ketua DPR Papua, Yunus Wonda mengaku tidak nyaman tindakan penyidik KPK yang mendokumentasikan kegiatan Gubernur Papua, Lukas Enembe bersama tim anggaran eksecutif dan legislatif serta Kemendagri di Hotel Borobudur, Sabtu (2/2/2019).
Yunus merasa mereka dimata-matai oleh KPK. Bahkan, Yunus mencium adanya rencana KPK melakukan OTT terhadap dirinya dan Gubernur Papua.
Hal itu diketahui dari pesan WhatsApp (WA) yang dikirim penyidik KPK kepada pimpinannya. Dalam percakapan itu, penyidik KPK memberitahukan kepada atasannya bahwa Gubernur Papuas sedang turun tangga dan Kabag Keuangan sedang membawa ransel.
“Pak Gubernur juga melihat isi WhatsApp-nya dan ada sebutan Lukas (Lukas Enembe), YW (Yunus Wonda) dan aktivitas yang kami lakukan. Saat itu juga Pak Gubernur perintahkan bawa ke polisi. Itu terjadi sekitar pukul 01.00 dini hari,” bebernya.
Menurut Yunus, kemungkinan KPK sedang merencanakan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap dirinya dan Gubernur Papua. Namun Yunus menegaskan bahwa pihaknya tidak main mata dengan siapa pun.
“Kami pikir mereka sebenarnya mau lakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap kami, tapi saya tegaskan bahwa kami kerja tak ada deal-deal dengan pihak manapun. Semua sesuai aturan, tapi kami seperti dicurigai,” tegasnya.
Juru Bicara KPK Febri Diansyah menuturkan, kejadian penganiayaan itu dilakukan menjelang tengah malam kemarin, Sabtu, 2 Februari 2019 di Hotel Borobudur, Jakarta.
“Saat itu Pegawai KPK ditugaskan untuk melakukan pengecekan di lapangan terhadap informasi masyarakat tentang adanya indikasi korupsi,” tutur Febri lewat keterangan tertulisanya, Jakarta, Minggu (3/2/2019).
Dua pegawai KPK yang bertugas tersebut, mendapat tindakan yang tidak pantas dan dianiaya hingga menyebabkan kerusakan pada bagian tubuh. Meskipun telah diperlihatkan identitas KPK namun pemukulan tetap dilakukan terhadap pegawai KPK.
Untuk memastikan kondisi dan kesehatan pegawai, ucap Febri, KPK telah membawa mereka ke Rumat Sakit (RS) untuk dilakukan visum.
”Sekarang tim sedang dirawat dan segera akan dilakukan operasi. Karena ada retak pada hidung dan luka sobekan pada wajah,” ujarnya.
Febri menyampaikan, penganiayaan terhadap pertugas yang sedang menjalankan tugasnya itu tidak dibenarkan.
“Sehingga kami memandang penganiayaan yang dilakukan terhadap dua pegawai KPK dan perampasan barang-barang yang ada pada pegawai tersebut merupakan tindakan serangan terhadap penegak hukum yang sedang menjalankan tugas,” imbuhnya./pojoksatu.com

Red/amf

Tidak ada komentar

MEDIA BAKIN. Gambar tema oleh 5ugarless. Diberdayakan oleh Blogger.