Pengamat: Demokrasi Yang Mulai Tumbuh Pasca Reformasi Mengalami Kemunduran


BAKINUPDATE.COM,- Pemilu sebagai salah satu instrumen demokrasi mestinya harus disikapi dengan bijak. Dalam kontestasi, pasti ada yang terpilih dan tidak terpilih, ada yang menang ada yang kalah.
Begitu dikatakan Pengamat Politik, Karyono Wibowo, saat berbicara dalam acara Buka Puasa Bersama dan Tausiyah Kebangsaan bertajuk “Memotret Peristiwa Kerusuhan 22 Mei: Sebuah Refleksi”, di Aula DPP Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK), Jakarta Selatan, Jumat (31/5/19).
“Tetapi saya melihat justru demokrasi yang kita capai pasca pemerintahan orde baru yang mulai tumbuh positif, justru hari ini mengalami kemunduran,” kata Karyono.
Menurut Karyono, wajah demokrasi kita selama ini terutama sejak pilkada 2017 dan Pilkada 2018 hingga pemilu 2019 dijejali dengan hoaks dengan hate speech (ujaran kebencian), dengan sikap-sikap para aktor politik yang justru mengidap penyakit infantilisme politik atau politik kekanak-kanakan.
“Justru mereka (elit politik) tidak memberikan contoh yang baik kepada masyarakat, tidak melakukan pendidikan politik kepada masyarakat. Tetapi justru sebaliknya, para aktor politik itu memberikan tontonan kepada publik sikap-sikap dan manuver-manuver politik yang justru bertentangan,” ungkap Direktur Indonesian Public Institute (IPI) itu.
Selain itu, tambah Karyono, ruang publik selama ini dijejali dengan politisasi SARA, isu politik identitas menguat dan mengemuka.
Memang, lanjut dia, politik identitas sudah terjadi sejak dulu, dan tidak hanya di Indonesia. Bahkan di Amerika Serikat pun politik identitas itu ada.
“Ada kecenderungan, misalnya kesamaan latar belakang suku, latar belakang identitas pemilih dengan kandidat. Misalnya ada pemilihan Gubernur di Sumatera Utara ada kandidat yang bersuku Jawa kecenderungan suku Jawa yang ada di Sumatera Utara meskipun tidak 100 persen, mereka akan memilih yang sesama Jawa. Begitupun dalam segi agama,” bebernya.
Namun, kata dia, hal itu sebenarnya tidak menjadi persoalan. Yang menjadi persoalan adalah ketika ada elit politik yang secara sengaja mengeksploitasi, menggunakan isu SARA untuk melakukan propaganda secara terbuka.
“Itu yang jadi persoalan. Ketika isu SARA dibuat propaganda secara terbuka,” katanya. (Ham)/telusur

Tidak ada komentar

MEDIA BAKIN. Gambar tema oleh 5ugarless. Diberdayakan oleh Blogger.