Merawat Kebhinekaan Melenyapkan Kotak-Kotak

Oleh : Don Zakiyamani (Penulis) 

BAKINUPDATE.COM - Seorang penulis muda yang berasal dari provinsi aceh, menuliskan sebuah cerita dibuku sakunya tentang pandangan kehidupan yang sekarang sangat miris dengan perpecahan Suku dan Bangsa di Negeri Tercinta Kita ini.

Dari pandangan mata Don Zakiyamani yang berasal dari Aceh besar "Banda Aceh" dan kebetulan sedang berada dijakarta saat ini, keluarlah ide untuk menulis sebuah cerita tentang kehidupan kini supaya membuka mata bathin kita tentang kehidupan yang sedang terjadi. Ungkap Bang Don sapaan akrabnya kepada awak media bakinupdate melalui via whatsapp, Rabu 22 Maret 2017.

Sebuah kenyataan yang dapat dibuktikan dalam sejarah bahwa kita memang hidup dalam perbedaan-perbedaan, itu taqdir yang tak bisa kita ubah bahkan oleh para Nabi, Rahib, Paulus, Dewa sekalipun. Lihat saja jenis Dewa dalam kepercayaan Yunani kuno, beragam Dewa dengan versi kekuatan/keunggulan masing-masing. Islam memaktubkan perbedaan kita dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujarat 13 yang mana dikatakan bahwa kita diciptakan dari dua jenis manusia yang berbeda (laki-laki dan perempuan) serta berbeda suku dan bangsa dengan tujuan satu, saling mengenal dan tentunya saling mencintai nantinya.

Indonesia terdiri berbagai suku yang kemudian saling mengenal dan mencintai sehingga lahirlah bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia kemudian memiliki bangsa-bangsa lain didunia, tujuannya juga yaitu saling mengenal, dengan bangsa yang berdekatan kita (bangsa Indonesia) melakukan hubungan bilateral dan multilateral. Hubungan saling menguntungkan sebagai sunnatullah, bukan hubungan saling menjajah (laknatullah) sehingga hubungan ideal itu sejatinya saling menghormati antara satu bangsa dengan bangsa lainnya. Begitu pula hubungan sesama suku yang mendiami Indonesia yang membentuk bangsa Indonesia dengan negara yang kita sepakati sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Apakah bangsa lain selain bangsa Indonesia boleh mendiami teritorial NKRI, memiliki hak dan kewajiban yang sama pula. Pertama yang harus kita luruskan ialah suatu negara memiliki dasar negara, konstitusi tertulis tertinggi yang menjadi konsensus rakyat Indonesia sebagai dasar hukum. Penjelmaan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan terealisasi dengan baik apabila kita bukan hanya hafal sila-sila Pancasila akan tetapi memahami dan tentu saja mengimplementasikan dalam keseharian. Berbagai bidang kehidupan kita harus berlandaskan Pancasila, bukan yang lain sehingga kita pun sepakat akan satu hal bahwa negeri ini dibangun atas dasar perbedaan suku,agama, budaya, hingga selera makan kita pun beda.

Kedua yang kemudian harus kita luruskan ialah, hanya ada satu bangsa di negara ini tidak ada bangsa lain, itulah sebabnya sila ke-3 mengamanatkan Persatuan Indonesia. Level yang lebih tinggi kita memiliki perserikatan bangsa-bangsa (PBB) yang bermarkas di new York, artinya lembaga itu menaungi bangsa-bangsa didunia. Bangsa bagi suatu negara adalah identitas yang membedakan satu negara dengan negara yang lain, jadi jika ada yang menginginkan penyatuan bangsa-bangsa di Indonesia maka nama negara ini pun harus diganti dengan persatuan bangsa-bangsa, atau nama lainnya. Ketika sudah menyadari dua perbedaan ini maka mari kita coba kembali memahami taqdir kita masing-masing, sebuah identitas yang kita bawa sejak lahir sebagai sebuah karunia Tuhan. Sebuah nikmat yang pantas kita syukuri dengan tidak menjadi penggangu bangsa, suku, agama, yang berbeda dengan kita.

Bersatu dalam perbedaan bukan berarti kita harus menghilangkan identitas kita sebagai suku tertentu, bangsa tertentu, agama yang kita percayai, serta pemahaman-pemahaman yang kita anggap benar dan baik. Kita tak ingin berkotak-kotak, terpolarisasi, bergap, akan tetapi kita pun tak elok kemudian menghilangkan identitas personal kita. Demikian setidaknya kebhinnekaan tunggal ika mengharapkan bangsa ini berjalan diantara bangsa-bangsa lain didunia, bila tak bersatu, bila bercerai berai atau terkotak-kotak kita akan dilibas zaman kompetitif. Pengkotak-kotakan antara satu suku dengan suku lain, seolah melupakan bahwa kita berbangsa dan bernegara didasari dan dirintis atas dasar perbedaan-perbedaan tadi.

Dominasi suatu suku atau etnis tertentu tidak dikenal dalam negara kita, setiap kita memiliki kewajiban untuk meminimalisir gap ekonomi, sosial, maupun politik demi menjaga stabilitas nasional maupun regional. Ini prinsip yang ingin dibangun akan tetapi seperti yang saya uraikan diatas, tanpa kemudian kita harus melenyapkan identitas kita, bersuku Aceh, Batak, Jawa, beragama Islam, Kristen, Hindu, Budha. Poin pentingnya adalah tidak terkotak-kotaknya kita karena perbedaan tadi, sehingga apa yang diharapkan sila ke-3 terwujud dan terciptalah masyarakat adil dan makmur.

Beberapa hari yang lalu saya membaca di beberapa media online, tulisan mengajak etnis Tionghoa agar tak rasis dari Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (GEPRINDO), menurut saya tulisan ini menarik dikarenakan ajakan datang dari penduduk asli (bangsa Indonesia) kepada pendatang dalam hal ini etnis Tionghoa. Ini bentuk ajakan damai sekaligus sebagai upaya agar bangsa Indonesia tidak terkotak-kotak serta lebih cerdas dalam memilih pemimpin, dalam tulisan tersebut pilkada DKI. Ajakan untuk merawat kebhinekaan tunggal ika dan melenyapkan kotak-kotak disetiap momen politik yang kita jumpai. Masih menjadi perdebatan panjang apakah etnis non-pribumi secara politik wajar menjadi pemimpin bangsa lain, kalau standarnya perserikatan bangsa-bangsa maka itu wajar saja akan tetapi bila bangsa iran dipimpin irak dan atau sebaliknya bagaimana, demikian pula mungkin maksud Bastian P Simanjuntak yang coba saya terjemahkan secara sederhana.

Apapun terjemahan kita terkait kemajemukan suku dan etnis di Indonesia, satu hal yang idealnya kita sepakati bahwa sudah saatnya kita melenyapkan kotak-kotak, gap, polarisasi, yang tidak sehat dengan jiwa putih bersih. Memajukan negeri, memajukan kota Jakarta misalnya sebagai ibukota negara sebaiknya dilakukan dengan cara-cara manusiawi agar warga menjadi bahagia dan kemajuan tidak terhambat. Mengusir penjajah dimasa lalu kita bersatu, tidak terkotak-kotak suku dan agama, demikian halnya hari ini kita harus bersatu padu melawan kapitalisme yang menyamar dalam bentuk reklamasi, relokasi, dan modus ekonomi lainnya yang hanya menguntungkan pemodal namun menyengsarakan rakyat bahkan menjatuhkan martabat bangsa. Mari merawat kebhinekaan tunggal ika sembari membumihanguskan kotak-kotak, gap, polarisasi yang menjadikan kita makhluk egois, tamak, rakus dan gila harta serta jabatan. Wallahu a’lam, Ucap Bang Don sebagai kata penutupnya.

Reporter : Hanafi
Redaktur : Dwi Heri Yana

Tidak ada komentar

MEDIA BAKIN. Gambar tema oleh 5ugarless. Diberdayakan oleh Blogger.