Oknum Libas TNI Minta Uang, TKI Dianiaya


BAKINUPDATE.COM, SAMBAS - Perlakuan oknum anggota LIBAS (Lintas Batas) diperbatasan Lintas Batas Border Aruk Kecamatan Sajingan Kabupaten Sambas Kalimantan Barat baru-baru ini telah mencoreng citra TNI Angkatan Darat, dan telah membuat rasa tidak aman terhadap masyarakat setempat, masyarakat Kabupaten Sambas, maupun pengguna  jalur Lintas Batas Border Aruk. Catatan Kelam Pos LIBAS kini terulang kembali, ada apa sebenarnya? Apakah sikap arogan terhadap masyarakat ini merupakan suatu kebiasaan ?

Pada hari Rabu tanggal 26 april 2017 Tim Investigasi telah mendapat informasi Via HP, bahwa telah terjadi pemukulan terhadap TKI yang pulang dari Malaysia oleh beberapa oknum anggota LIBAS di Aruk Sajingan, dan sore itu juga Tim bersama Anggota Dewan DPRD Komisi B dan Komisi C Kabupaten Sambas berangkat menuju Aruk Sajingan dan bertemu dengan Bapak Purba selaku PAMTAS di Border Aruk. Menurut Purba pihaknya sangat merasa menyesal apa yang telah dilakukan oleh oknum anggotanya, serta ia berniat untuk mendatangi kediaman korban guna meminta maaf atas apayang dilakukan anak buahnya, "Saya sangat menyesali kejadian ini, dan mohon maaf sebesar-besarnya. Besok kami bersama Danki LIBAS akan mendatangi kediaman korban, guna mempertanggung jawabkan perbuatan oknum anggota LIbas tersebut terhadap korban.” ungkapnya.

Menurut keterangan  keluarga korban berinisial BH kejadian bermula  dari Korban (sebut HR) yang hendak pulang ke Indonesia terpaksa melalui jalan tikus, karena tidak memiliki Paspor atau PLB. Namun saat berangkat  bekerja ke Negeri Jiran Malaysia, HR memiliki Dokumen PLB, karena gaji tidak sesuai dengan perjanjian, HR nekat melarikan diri dari tempat dia bekerja. Dalam perjalanan melewati  jalan tikus, HR bertemu dengan  seorang warga yang tidak diketahui namanya yang juga akan pulang ke Indonesia. Setelah  melewati  jalan tikus mereka pergi ke tempat mobil biasa mangkal yang tidak jauh dari Pos LIBAS. Pada saat mereka akan masuk ke dalam mobil, datanglah 3 (tiga) orang oknum Anggota LIBAS berinisial NK, CR, AS, berpakaian seragam TNI  memberikan  pertanyaan kepada HR dan rekannya, merasa ketakutan rekan HR sempat melarikan diri, sedangkan HR dibawa ke Pos LIBAS. Sesampai di Pos HR dimintai keterangan dan uang sebesar RM. 50, karena HR tidak bisa memberikan uang, ketiga oknum tersebut lalu mengikat, memukuli HR, akibatnya dada depan, punggung, pipi korban memar hingga telinga kirinya berdengung, bahkan Hp rusak akibat perlakuan ketiga oknum tersebut. Padahal HR sama sekali tidak membawa senjata tajam maupun barang terlarang. Untunglah tidak lama kemudian  salah satu warga setempat berinisial RY segera datang ke Pos LIBAS untuk melepaskan korban dari ikatan maupun tahanan mereka.

Apakah ini yang dinamakan menjaga keamanan, bukankah penempatan Pos LIBAS di sepanjang perbatasan selain menjaga Kedaulatan NKRI, juga dapat memberikan rasa aman tentram kepada rakyat Indonesia, khususnya masyarakat perbatasan yang berintraksi langsung sehari-harinya dengan mereka dan pengguna jalur Lintas Perbatasan.

Di hari yang sama juga telah terjadi penganiayaan oleh oknum LIBAS diwilayah perbatasan Aruk Sajingan. Diceritakan oleh JF kepada Tim Investigasi, bahwa koban WL saat itu sedang bekerja menggali parit pipanisasi, tiba-tiba datang seorang anggota LIBAS berpakaian seragam TNI tanpa alasan yang jelas langsung menampar WL, bahkan akan memukul WL dengan cangkul.

Jika kita ingat kepada peristiwa-peristiwa lalu yang terjadi di daerah sepanjang perbatasan, seperti pemukulan Kepala Desa, Pencoretan Dokumen Paspor, pemukulan terhadap masyarakat, dan banyak lagi sikap arogan dari oknum anggota LIBAS. Campur tangan dari oknum  LIBAS yang bukan menjadi Tupoksinya, terkadang membuat keadaan di Border lintas batas menjadi sangat tidak nyaman, mereka bekerja sudah diluar daripada kewenangannya sebagai alat Negara yang ditugaskan untuk menjaga keamanan Negara Republik Indonesia.

Amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-undang nomor 39 tahun 1999, dapat disimpulkan secara tegas bahwa Hak Asasi manusia adalah seperangkat Hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, dan merupakan anugerahNya yang wajib untuk dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi Negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Bahwa setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, berhak untuk hidup serta berhak untuk rasa aman dan perlindungan dari ancaman untuk berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi, saling menghormati hak-hak orang lain dengan tidak membedakan status sosial seseorang.

Sebagai sesama manusia kita memang harus saling memaafkan, akan tetapi hukum juga harus tetap ditegakkan, jangan seperti PISAU,” TUMPUL KE ATAS TAJAM KE BAWAH.” Mari bersama-sama kita jaga Kedaulatan NKRI. (TIM Biro Sambas)

Tidak ada komentar

MEDIA BAKIN. Gambar tema oleh 5ugarless. Diberdayakan oleh Blogger.