Kasus Pemalsuan Sertifikasi Guru Diungkap Polrestabes Bandung

SERTIFIKASI PALSU - Kadisdik Kota Bandung, Elih Sudiapermana / beritabandung

BAKINUPDATE.COM, BANDUNG - Kadisdik Kota Bandung Elih Sudiapermana menegaskan jika pihaknya belum memperoleh kepastian tentang adanya okum guru dan jajaran disdik yang terlibat dalam kasus ratusan sertifikasi palsu yang baru saja diungkap Polrestabes Bandung.

“Sampai hari ini kami belum dapat data tentang guru dan oknum di dinas Kota Bandung yang menggunakan sertifikat palsu. Namun kami sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian khususnya Polres Bandung untuk mendata apakah ada guru di Kota Bandung yang terlibat dalam kasus itu,” tegasnya yang di temui di ruang kerjanya, Rabu (9/8/2017).

Dikutip dari beritabandung, Elih mengatakan jika di Disdik Kota Bandung melakukan hubungan kerja dengan perbankan dan keuangan Disdik.”Hal itu untuk menjamin pemeriksaan perbankan dan juga Disdik apakah guru yang akan meminjam dana di perbankan dananya mencukupi atau tidak termasuk untuk melakukan pengecekan apakah sertifikasinya asli atau palsu,” tegasnya.

Ia berharap di lingkungan Disdik Kota Bandung tidak ada yang terlibat dalam kasus pemalsuan 300 sertifikasi guru yang baru saja diungkapkan Polres Bandung.
“Semoga tidak ada guru di lingkungan Disdik Kota Bandung yang terlibat, namun jika ada maka itu akan kami serahkan sepenuhnya ke pihak kepolisian karena itu sudah ranah hukum,” tegasnya.

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Yusri Yunus mengatakan, ratusan guru di Jawa Barat telah menjadi pelanggan pemalsuan surat sertifikasi di gang Siaga 1, Tubagus Angke, Tambora, Jakarta Barat. "300 guru kita ungkap yang dia punya sertifikasi. Tapi dari fotocopy itu digandakan untuk 'disekolahkan' ke bank lain," ungkapnya, Selasa (8/8/2017).

Ia mengatakan, para guru tersebut memesan sertifikat palsu kepada seorang agen berinisial YY. Saat ini polisi telah mengamankan agen tersebut. Yusri mengatakan, terungkapnya praktik pembuatan dokumen palsu ini berawal ketika Ditreskrimum Polda Jabar mengungkap satu kasus penipuan dan penggelapan dengan korban pihak Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang mengalami kebocoran anggaran mencapai Rp 34 miliar."Nah dalam penipuan ini YY akan membantu memalsukan sertifikasi guru untuk digadaikan sebesar Rp 80 juta," sebutnya.

Dalam menjalankan aksinya YY bekerja dengan sejumlah oknum bank untuk melancarkan proses penggadaian.
Nantinya, lanjut Yusri, YY akan mendapat bagian sebesar Rp 12 juta sedangkan pemilik sertifikasi mendapat bagian 30 persen atau sekitar Rp 20 juta, sisanya untuk oknum lain termasuk oknum bank.
Ia mengatakan, dokumen-dokumen yang dipalsukan di lokasi ini sangat menyerupai dokumen asli. Dokumen dilengkapi dengan tanda hologram dan huruf model emboss (timbul) dengan sangat rapi yang dibuat untuk meyakinkan mengenai keaslian dokumen.

"Selain YY kami juga telah mengamankan TM sebagai pencetak dokumen palsu, kami juga masih mengejar T sebagai pemilik rumah. Kami akan selidiki kemana saja dokumen-dokumen palsu ini beredar," tutupnya.


Editor : Dwi Heri Yana

Tidak ada komentar

MEDIA BAKIN. Gambar tema oleh 5ugarless. Diberdayakan oleh Blogger.