Muchtar Effendi Harahap : Pertemuan SBY dan Megawati Bukti Bahwa SBY Bukan Pendendam

Pertemuan Bukan Simbol Merapatnya Partai Demokrat Ke Jokowi

Pengamat Politik : Muchtar Effendi Harahap

BAKINUPDATE.COM - Pengamat politik dan peneliti senior dari Network For South East Asian Studies (NSEAS) Muchtar Effendi Harahap mencermati tentang  hadirnya Presiden Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri dan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudoyono dalam upacara kemerdekaan Indonesia ke-72  di Istana Negara yang menjadi sorotan publik, menilai bahwa mantan Presiden SBY bukanlah sosok pendendam.


Banyak pihak menganggap Presiden Joko Widodo berperan besar bagi terjadinya pertemuan itu. Menurut Muchtar, “bukanlah Jokowi yang berjasa besar atas kehadiran dua mantan Presiden Indonesia di Istana Merdeka.                    
Justru SBY lah yang menjadi sosok protagonis dalam pertemuan itu.
                 
"Secara politik pencitraan, memang pertemuan itu seolah-olah karena campur tangan Jokowi, akan tetapi bagi saya, justru pertemuan itu adalah prestasi SBY." Jelas Muchtar kepada awak media Bakin.
                    
Dijelaskan bahwa SBY bukanlah sosok pendendam. Bahkan selama SBY menjabat Presiden Indonesia selama sepuluh tahun dan menjadi Inspektur upacara 17 Agustus kemerdekaan di Istana Merdeka tak pernah sekalipun Megawati hadir di Istana Merdeka.
                  
Dijelaskan lebih lanjut, bahwa pemberitaan tentang pertemuan itu terlalu dibesar-besarkan, seolah-olah bahwa pertemuan itu adalah pertemuan pertama sejak SBY menjabat Presiden Indonesia 2004 yang lalu. Padahal saat Taufik Kiemas masih menjabat ketua MPR, ada pertemuan antara Megawati dan SBY pada acara MPR yang pertemuannya terkait Pancasila."  tandas Muchtar.
                   
“Ada pihak mengklaim, pertemuan itu merupakan simbol bahwa Partai Demokrat akan merapat ke Rezim Jokowi. Pada dasarnya pihak ini tergolong pendukung Jokowi atau Jokowers. Saya pikir klaim ini sebagai refleksi kecemasan dan ketakutan Jokowi akan kalah pada Pilpres 2019. Mereka sangat paham, kini elektabilitas Jokowi merosot hingga di bawah 40 persen.

“Saya sulit sekali memahami tradisi dan karakteristik prilaku politik SBY dalam konteks hubungan kekuasaan dengan dirinya. Sulit diprediksi dan acapkali tak terduga. Sebagai misal, saat Pilpres 2014, Demokrat netral, tidak Prabowo dan tidak Jokowi. Padahal Wapres Prabowo adalah Besan SBY, Hatta Radjasa. Lalu kasus Pilkada DKI lalu, tiba2 anak kandungnya, Agus, jadi Calon “Gubernur pada hal di publik buka lamaran calon gubernur. Waktu putaran kedua, bersikap juga netral, tidak Anis tidak Ahok. Padahal secara sosiologis pendukung dan relawan Agus dominan bergabung dukung Anies. SBY sulit dipahami dan diprediksi prilaku politik kekuasaannya.”tutup Muchtar.

Redaktur : Dwi Heri Yana

Tidak ada komentar

MEDIA BAKIN. Gambar tema oleh 5ugarless. Diberdayakan oleh Blogger.