Catatan Kebangsaan: Krisis Jati Diri


BAKINUPDATE.COM - Krisis persatuan yang menggema di hampir seantero nusantara, anginnya bertiup kemana mana. Cekcok, kekerasan antar keluarga, tawuran antar kampung, menjadi tanda atas terjadinya disharmoni.

Hal ini semakin menguatkan dugaan bahwa realitas ini terjadi karena rasa persaudaraan tidak terwahana dengan baik, dan tadarus Pancasila yang tidak tuntas, akibatnya pada sebagian individu menempuh caranya sendiri yang terkadang berseberangan dengan kesantunan berkomunikasi. Bahkan,  dari sisi kebangsaan mengabaikan nilai-nilai luhur yang termaktub dalam Pancasila, UUD 1945 yang asli, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Fenomena ini sungguh menyedihkan dan menggelisahkan kita dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Komunikasi berbangsa dan bernegara pun mengabaikan rasa persaudaraan. Retaknya pemahaman atas cinta tanah air karena warga merasa sudah selesai ketika hidupnyaselesai pada dataran individu.

Potret seperti ini mudah kita jumpai, terutama di kota-kota besar. Akibat dari ini, orang lain cenderung dianggap sosok yang tidak penting dan karenanya tidak perlu diperhatikan. Bahkan jika dianggap mengganggu, dinilai layak mendapat pelajaran dengan cara menorehkan kekerasan.

Robeknya rasa persatuan dan bertanah air ini disebabkan faktor budaya hidup yang materialistik dan hedonistik. Saat dua hal ini dominan dan dijadikan sebagai cara pandang, out put pendidikan politik cenderung solo karier. Antara lain, politisi saat ini terlebih dahulu harus bertarung di kandangnya sendiri dan jika menang ke luar kandang dan bertarung dengan politisi lain di kandang yang berbeda.

Agar bangsa kita tidak semakin terpuruk dan kehilangan rujukan nilai, dipandang perlu untuk menanamkan kembali nilai-nilai kebangsaan terutama kepada generasi muda sedini mungkin. Langkah ini penting dilakukan agara generasi masa depan menganggap orang lain sebagai bangsanya dan menilai dirinya sendiri bagian penting dari keseluruhan berbangsa. Ini masalah kita semua sebagai bangsa, dan patut kita sadari bersama bahwa kita ini telah mengalami gejala krisis berindonesia.

Krisis jati diri seakan mengantarkan kita pada ruang ketidakberdayaan sehingga kita abai dan tidak lagi mampu memaknai ruh kearifan dalam perspektif luhur budaya bangsa itu sendiri. Lihat, berapa banyak kaum muda yang tidak menghormati orang yang lebih tua. Bahkan, begitu banyak generasi muda yang telah melampaui rasa malu dalam berperilaku. Kita pantas khawatir tidak malu pada satu dimensi itu pada akhirnya juga tidak merasa malu melakukan hal lain yang lebih jauh.

Masih ada waktu untuk berbenah diri, menyelamatkan Indonesia dari krisis jati diri yang bisa menghancurkan tata kelola dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita belajar untuk membiasakan kembali dengan menghadirkan ruh nasionalisme kepada anak-anak kita.
Mari kita bangga menjadi Indonesia.

Penulis : D. Supriyanto Jagad N/ Pekerja Budaya
Redaktur : AMF

Tidak ada komentar

MEDIA BAKIN. Gambar tema oleh 5ugarless. Diberdayakan oleh Blogger.